Kyra dan ketiga saudaranya tiba di jembatan, berjalan di tengah-tengah keramaian orang, dan saat mereka lewat, orang-orang itu berhenti sejenak dari kesibukannya, memandang mereka dan menunjuk-nunjuk babi hutan itu. Kyra puas juga melihat kedua kakaknya bermandi keringat, terengah-engah memanggul babi hutan. Semua orang -baik penduduk desa maupun para prajurit- menoleh dan mulut mereka melongo, terkesima oleh besarnya babi hutan itu. Kyra juga mendapati tatap mata yang menyiratkan kekhawatiran tentang takhayul; sama seperti dirinya, beberapa orang di situ juga menduga-duga apakah babi hutan itu merupakan pertanda buruk.
Yang jelas, semua mata tertuju pada kedua kakaknya dengan penuh kebanggan.
"Tangkapan bagus untuk pesta nanti!" seru seorang petani yang tengah menuntun lembunya sembari menyusuri jalan bersama dengan mereka.
Raut muka Brandon dan Braxton pun berseri-seri bangga.
"Babi hutan itu cukup untuk santapan separuh tamu ayahmu!" teriak seorang tukang daging.
"Bagaimana caramu menangkapnya?" tanya seorang perajin pelana.
Kedua kakaknya saling berpandangan, dan Brandon akhirnya tersenyum lebar pada perajin itu.
"Bidikan yang jitu dan keberanian," jawab Brandon mantap.
"Jika kalian tak berani masuk ke hutan, maka kalian takkan tau apa yang bisa kalian dapatkan," imbuh Braxton.
Beberapa orang lain bersorak dan bertepuk tangan di belakang mereka. Kyra sendiri hanya diam. Ia tak butuh pengakuan dari orang-orang ini, karena ia tahu pasti apa yang telah dilakukannya.
"Bukan mereka yang membunuh babi hutannya!" Teriak Aidan geram.
"Diam kau!" Brandon menoleh dan menghardiknya pelan. "Sekali lagi kau ulangi, akan kuberitahu mereka bahwa kau terkencing-kencing di celana karena dikejar babi hutan."
"Tapi aku tidak terkencing di celana!" sanggah Aidan.
"Menurutmu mereka akan percaya pada omonganmu?" tambah Braxton.
Brandon dan Braxton tertawa, lalu Aidan memandang Kyra seakan ingin tahu apa yang akan Kyra lakukan selanjutnya.
Kyra hanya menggeleng.
"Jangan buang-buang tenaga," katanya pada Aidan. "Kebenaran selalu menang."
Kerumunan orang semakin ramai saat mereka melintasi jembatan; bahu mereka terus saling bersinggungan dengan orang-orang saat melewati atas parit. Kyra dapat merasakan kegembiraan menguar di udara seiring senja tiba, obor-obor menyala menerangi sisi atas dan bawah jembatan, dan salju turun semakin deras. Ia memandang ke depan dan seperti biasanya, jantungnya berdegup kencang saat melihat gerbang batu besar berbentuk melengkung di muka benteng, yang dijaga oleh selusin pasukan ayahnya. Di puncak lengkungan itu mencuat ujung-ujung tajam dari pintu gerbang besi yang tergantung; batang-batang besi yang tajam dan tebal itu cukup kokoh untuk menghalangi musuh, dan gerbang itu siap ditutup hanya dengan isyarat terompet tanda bahaya. Gerbang itu tergantung tiga puluh kaki tingginya, dan di atasnya terdapat sebuah lantai lebar yang membentang mengelilingi seluruh benteng, dinding pertahanan dari batu tempat penjaga yang selalu mengawasi dengan mata yang siaga. Volis adalah sebuah benteng yang kuat, dan Kyra selalu bangga akan benteng tersebut. Yang membuatnya semakin bangga adalah para pasukan di dalamnya, anak buah ayahnya, prajurit-prajurit terbaik Escalon, yang sedikit demi sedikit berkumpul kembali di Volis setelah tercerai berai sejak menyerahnya sang Raja; mereka bagai magnet yang menempel pada ayahnya. Berulang kali ia mendesak ayahnya agar menobatkan diri sebagai Raja yang baru, seperti halnya yang diinginkan oleh banyak orang—namun sang ayah hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa itu bukanlah takdirnya.
Ketika mereka telah dekat dengan gerbang, selusin anak buah ayahnya lewat dengan berkendara di atas kuda, dan orang-orang pun menyingkir memberi jalan pada mereka yang hendak menuju ke arena latihan, sebuah tanggul melingkar yang lebar pada sebidang tanah lapang di luar benteng yang dikelilingi oleh dinding batu rendah. Kyra berpaling dan memandang mereka berlalu, dan jantungnya berdegup makin kencang. Arena latihan adalah tempat kesukaannya. Ia suka pergi ke sana dan menyaksikan para prajurit itu berlatih selama berjam-jam, memelajari tiap gerakan yang mereka lakukan, cara mereka menunggang kuda, bagaimana mereka menghunus pedang, melontarkan tombak, atau mengayunkan bola berduri. Para prajurit ini tetap berlatih meskipun malam hampir tiba dan salju turun, meskipun sebuah pesta perayaan akan digelar pada hari itu, semata-mata karena mereka ingin berlatih agar lebih mahir, karena mereka lebih suka terjun ke medan pertempuran daripada berpesta di dalam ruangan, seperti dirinya. Bagi Kyra, mereka ini adalah prajurit-prajurit sejati.
Sepasukan prajurit lain melintas dengan berjalan kaki, dan saat berpapasan dengan Kyra dan saudara-saudaranya di gerbang benteng, para prajurit ini serta kerumunan orang lain di situ memberinya jalan, agar Brandon dan Braxton yang memanggul babi hutan dapat lewat dengan mudah. Mereka bersiul tanda kagum dan berkumpul; mereka adalah pria-pria besar berotot kekar, dengan tubuh satu kaki lebih tinggi dari kedua kakaknya yang tak bisa dibilang kecil, dan kebanyakan dari mereka memiliki jenggot yang sedikit beruban; mereka semua adalah pria-pria terlatih berusia tiga puluhan dan empat puluhan yang telah malang melintang dalam banyak pertempuran, yang telah mengabdi pada Sang Raja dan menanggung kehinaan karena Sang Raja akhirnya menyerah. Mereka adalah para pria yang tak akan pernah sudi menyerah. Pria-pria ini adalah orang-orang berpengalaman dan tak mudah kagum—namun kali ini sepertinya mereka terkagum-kagum akan babi hutan itu.
"Kalian sendiri yang membunuhnya, bukan begitu?" salah satu dari mereka menanyai Brandon, lalu mendekat dan mengamati babi hutan itu.
Kerumunan makin bertambah dan Brandon serta Braxton akhirnya berhenti, menanggapi pujian dan kekaguman pria-pria hebat itu, sembari berusaha mati-matian agar nafasnya tak terlihat terengah-engah.
"Ya, benar!" seru Braxton dengan bangga.
"Babi hutan Tanduk Hitam," kata seorang prajurit lain setelah mendekat dan meraba punggung babi hutan. "Tak pernah kulihat lagi sejak aku kecil. Aku pernah ikut membantu membunuh babi hutan semacam ini—namun saat itu aku bersama dengan banyak orang—dan dua dari antara mereka harus kehilangan jari-jari di tangannya."
"Yah, dan kami tidak kehilangan apa pun," tukas Braxton mantap. "Kecuali sebuah mata tombak."
Emosi Kyra terbakar saat para prajurit itu tertawa karena kagum akan hasil buruan itu; akan tetapi, seorang prajurit lain, pemimpin mereka, yaitu Anvin, melangkah maju dan memeriksa babi hutan itu dengan saksama. Para prajurit lain minggir, memberinya ruang karena rasa segan mereka padanya.
Anvin, komandan pasukan ayahnya, adalah pria yang paling Kyra kagumi; ia hanya tunduk pada ayahnya, dan dialah pemimpin para prajurit terbaik ini. Anvin bagaikan ayah kedua bagi Kyra, dan Kyra telah mengenalnya sejak kecil. Ia tahu bahwa Anvin amat menyayanginya, dan Anvin selalu menjaganya; dan yang paling penting, Anvin selalu meluangkan waktu baginya, mengajarinya teknik-teknik bertarung dan ilmu senjata, sedangkan tak satu pun prajurit lain mau melakukannya. Bahkan tak hanya sekali Anvin mengizinkannya berlatih bersama para prajurit yang lain, dan Kyra selalu menikmati setiap kesempatan yang diberikan padanya. Anvin adalah pria terkuat di antara mereka semua, namun sekaligus pria yang paling baik hati—tentunya pada orang-orang yang Anvin sukai. Pada orang lain yang tak Anvin sukai, Kyra hanya bisa turut prihatin.
Anvin sangat membenci kebohongan; ia adalah jenis pria yang harus selalu mengetahui kebenaran dari segala sesuatu, sesamar apa pun kebenaran itu. Ia memiliki mata yang jeli, dan saat ia melangkah maju lalu memeriksa babi hutan itu dengan cermat, Kyra melihatnya berhenti dan mengamati dua buah luka bekas anak panah. Anvin memiliki mata yang teliti, dan ia adalah satu-satunya orang yang mampu melihat kebenaran yang tersembunyi.
Читать дальше