Babi hutan itu mengejang di tanah, dan Kyra yang telah menyiapkan sebuah anak panah lagi, berjalan menghampirinya lalu berdiri mengangkangi tubuh babi hutan itu, kemudian ia hunjamkan lagi anak panah itu ke belakang batok kepala babi hutan. Akhirnya tubuh itu tak bergerak-gerak lagi.
Kyra berdiri membisu di tanah padang; jantungnya berdegup, rasa menggelitik di telapak tangannya berangsur surut, energi itu perlahan lenyap, dan ia terheran-heran atas apa yang baru saja terjadi. Benarkah ia yang memanah babi hutan itu?
Tiba-tiba ia teringat akan Aidan, dan saat ia meraih dan merengkuhnya, Aidan menatapnya seolah ia sedang menatap ibunya; matanya masih menyiratkan ketakutan, namun ia selamat. Ia merasakan setitik kelegaan saat menyadari bahwa dirinya baik-baik saja.
Kyra berpaling dan melihat kedua kakaknya masih bertiarap di tanah, sembari memandangnya dengan tertegun—dan kagum. Namun ada isyarat lain dalam tatapan mata mereka, sesuatu yang membuatnya gusar: kecurigaan. Seolah Kyra berbeda dengan mereka. Bagai seorang asing. Itu adalah tatap mata yang pernah Kyra lihat sebelumnya, kadang-kadang saja, namun cukup sering untuk membuat kira pun terheran-heran akan dirinya sendiri. Ia berbalik dan memandang binatang yang telah tewas itu, binatang yang mengerikan, besar; ia tertegun dan keheranan, bagaimana mungkin seorang gadis berusia lima belas tahun seperti dirinya mampu melakukan hal ini. Ia tahu bahwa ini di luar kemampuannya. Ini bukan sekadar bidikan yang beruntung.
Selalu ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda dari saudara-saudaranya. Ia berdiri saja di sana, membeku, ingin rasanya bergerak namun tak sanggup. Ia tahu bahwa yang membuatnya terguncang bukanlah binatang buas itu, melainkan cara kedua kakaknya memandang dirinya. Dan untuk kesekian kalinya ia tak mampu memahami jawaban dari pertanyaan yang tak pernah berani ia cari seumur hidupnya.
Siapakah sebenarnya dirinya?
Kyra berjalan di belakang saudara-saudaranya menyusuri jalan kembali ke benteng, sambil memandang mereka yang kerepotan memanggul beratnya babi hutan itu; Aidan ada di sampingnya dan Leo mengikutinya di belakang, ia telah kembali dari perburuannya sendiri. Brandon dan Braxton bersusah payah membawa binatang yang telah mati itu, yang terikat pada kedua tombak mereka dan dipanggulnya di bahu. Suasana hati mereka yang suram telah berubah drastis sejak keluar dari hutan dan kembali melihat langit luas, apalagi kini benteng ayah mereka telah terlihat. Langkah demi langkah, kepercayaan diri Brandon dan Braxton telah kembali, sebentar lagi kesombongan mereka akan muncul lagi; saat ini mereka mulai tertawa-tawa dan saling menggoda sembari membual tentang hasil buruan mereka.
"Tombakkulah yang menggores babi hutan itu," kata Brandon paa Braxton.
Braxton menimpali "Tetapi, tombakku yang membuatnya berlari ke arah panah Kyra."
Kyra menyimak, mukanya merah mendengar bualan mereka; kedua kakaknya yang bodoh lagi keras kepala itu mulai meyakinkan diri tentang cerita bualan mereka sendiri, dan sepertinya kini mereka mulai mempercayainya. Kyra telah siap dengan bualan mereka saat kembali ke benteng ayahnya nanti, kemudian mereka akan bercerita pada semua orang tentang buruan yang mereka bunuh itu.
Benar-benar menyebalkan! Namun ia merasa bukan tugasnya untuk menegur mereka. Ia benar-benar yakin akan roda keadilan, dan ia tahu bahwa pada akhirnya, kebenaran akan selalu terbukti.
"Dasar pembohong," kata Aidan sembari berjalan di belakang Kyra; tampak jelas bahwa Aidan masih gemetaran karena kejadian di hutan tadi. "Kalian tahu bahwa Kyra-lah yang membunuh babi hutan itu."
Brandon melirik sekilas ke belakang sekenanya, seolah Aidan tak lebih dari seekor serangga saja.
"Dan kau sendiri?" tanyanya pada Aidan. "Kau sibuk terkencing-kencing di celana."
Mereka berdua tertawa tergelak, seakan makin menegaskan bualan mereka.
"Dan kau tidak lari ketakutan?" tanya Kyra membela Aidan; ia sudah tak tahan lagi.
Mendengar itu, kedua kakaknya hanya bisa terdiam. Kyra dapat dengan mudah membungkam mereka—namun ia tak perlu berkata dengan suara yang meninggi. Kyra berjalan dengan riang, merasa senang pada dirinya sendiri karena dalam hati ia merasa telah menyelamatkan nyawa saudaranya; itu sajalah kepuasan yang ingin ia dapatkan.
Kyra merasa sebuah tangan kecil menyentuh bahunya, dan ia menoleh kepada Aidan yang tersenyum dan menghiburnya; tergambar jelas raut muka penuh syukur karena ia selamat dan baik-baik saja. Kyra bertanya-tanya adakah kedua kakaknya itu juga menghargai apa yang telah ia lakukan bagi mereka; toh, andaikan ia tak muncul tepat pada waktunya, mereka berdua juga akan tewas oleh babi hutan itu.
Kyra memandang babi hutan yang bergucang-guncang di depannya seiring tiap langkah kaki, dan ia pun menyeringai; ia berharap kedua kakaknya membiarkan saja babi hutan itu di ladang, tempat ia seharusnya berada. Babi hutan itu adalah binatang yang terkutuk, bukan milik Volis, dan tempatnya bukanlah di sini. Binatang itu adalah pertanda buruk, apalagi asalnya dari Hutan Akasia, lagipula ini adalah perayaan Bulan Musim Dingin. Ia teringat sebuah pepatah kuno yang pernah dibacanya: jangan membual setelah luput dari maut. Ia merasa bahwa kedua kakaknya itu bermain-main dengan takdir, mengundang malapetaka ke rumah. Ia tak dapat berbuat apa-apa, namun tampaknya akan muncul hal-hal yang buruk.
Mereka mendaki bukit dan setelah tiba di puncaknya, terlihatlah benteng ayahnya terbentang di depan mereka, dengan seluruh pemandangan yang melingkunginya. Meskipun angin bertiup makin kencang dan salju turun makin deras, Kyra merasakan kelegaan karena telah pulang ke rumah. Asap membumbung dari cerobong yang tampak bagai noktah hitam di sekitar pedesaan dan benteng ayahnya memancarkan pendar lembut dan redup, penuh dengan nyala api yang temaram, menerangi senja yang mulai datang. Jalanan mulai melebar, lebih rata saat makin dekat dengan jembatan, dan mereka mempercepat langkah serta berjalan dengan lebih bersemangat saat makin dekat dengan benteng. Jalan itu sibuk dengan hilir mudik orang, mereka bersemangat menyambut datangnya pesta perayaan meskipun di tengah cuaca yang buruk dan malam yang hampir tiba.
Kyra keheranan. Pesta perayaan Bulan Musim Dingin adalah salah satu perayaan terpenting dalam setiap tahun, dan semua orang sibuk mempersiapkan pesta itu. Banyak orang berkerumun di atas jembatan gantung, bergegas membeli barang-barang dari pedagang untuk mengikuti pesta di dalam benteng—sementara orang-orang yang keluar dari gerbang pun tak kalah banyaknya, bergegas pulang ke rumah untuk merayakannya bersama keluarga. Lembu-lembu menarik pedati dan mengangkut barang dari kedua arah, sementara para tukang batu menggepuk dan membelah batu di dekat tembok yang baru dibangun mengelilingi benteng; denting palu yang beradu terdengar di udara, bergantian dengan suara ternak dan lolongan anjing. Kyra tak paham bagaimana mereka mampu terus bekerja di tengah cuaca seperti ini, bagaimana tangan mereka tak membeku kedinginan.
Saat tiba di jembatan, mereka pun berbaur dengan orang banyak, lalu Kyra memandang jauh ke depan dan merasa muak karena apa yang dilihatnya di dekat gerbang benteng, yaitu beberapa Pasukan Pengawal, para prajurit pengawal Tuan Gubernur yang ditugaskan oleh Pandesia, dalam balutan baju zirah merah yang khas. Terbersit olehnya kegeraman akan apa yang dilihatnya itu, sama seperti kebencian yang dirasakan semua orang. Keberadaan Pasukan Pengawal selalu terasa menyesakkan—terlebih lagi pada saat pesta Bulan Musim Dingin, di mana mereka datang hanya untuk meminta segala rupa pungutan yang dapat mereka minta dari penduduk. Bagi Kyra, mereka ini tak ubahnya pemulung; perusuh dan pemulung yang menjadi kaki tangan para bangsawan busuk yang menduduki kekuasaan sejak invasi Pandesia.
Semua ini adalah salah Raja mereka sebelumnya, yang menyerah kepada Pandesia—namun kini tak ada gunanya. Sekarang sungguh memalukan, mereka harus tunduk hormat pada pasukan-pasukan ini. Hal ini membuat Kyra dipenuhi oleh amarah. Ketundukan itu membuat ayahnya dan prajurit-prajurit terbaiknya—serta semua kawan Kyra—menjadi tak lebih dari sekadar budak yang diangkat derajatnya; Kyra sungguh ingin mereka bangkit, berjuang demi kebebasannya, bertempur dalam perang yang tak berani dilakukan oleh Raja mereka yang terdahulu. Namun ia juga tahu bahwa jika mereka bangkit sekarang, maka mereka harus menghadapi kemurkaan Pasukan Pengawal. Mungkin mereka bisa mencegahnya jika mereka tak membiarkan para pasukan itu berkuasa; namun setelah kini para pasukan itu telah bercokol cukup lama, maka mereka tak punya banyak pilihan lagi.
Читать дальше