Erec merasakan kebencian terhadap pemilik penginapan melampaui yang pernah ia rasakan terhadap seorang pria. Sebagian dari pikirannya hendak mencabut pedangnya dan menikam jantungnya lalu membinasakannya. Bagaimanapun juga pria itu mungkin layak untuk diperlakukkan seperti itu, tetapi Erec tidak ingin melanggar hukum Raja. Selain itu, tindakannya mencerminkan sang raja.
"Hukum Raja adalah hukum Raja," kata Erec kepada pria itu dengan tegas. "Aku tidak berniat untuk melanggarnya. Dikatakan bahwa esok adalah dimulainya turnamen. Dan aku berhak, seperti pria manapun, untuk memilih pengantinku. Dan biarkan hal itu diketahui di sini dan bahwa saat ini aku memilih Alistair."
Keterkejutan menyebar ke ruangan itu, sebagaimana semua orang saling bertukar pandang, terkejut.
"Yang mana," tambah Erec, "jika dia menerimanya."
Erec menatap Alistair, jantungnya berdegup, ketika dia tetap menundukkan wajahnya ke lantai. Ia bisa melihat bahwa ia tersipu.
"Apakah kau setuju, tuan putri?" tanyanya.
Ruangan itu menjadi hening.
"Tuanku," ujarnya dengan lembut, "Anda tidak tahu apa-apa tentang siapa saya, dari mana saya berasal, mengapa saya berada di sini. Dan saya takut ini adalah hal-hal yang tidak bisa saya katakan kepada Anda."
Erec menatapnya dengan bingung.
"Mengapa kau tidak bisa menceritakannya kepadaku?"
"Saya tidak pernah mengatakan kepada siapa pun sejak kedatangan saya. Saya telah bersumpah."
"Tetapi mengapa?" tekannya, sangat penasaran.
Tetapi Alistair hanya tetap menundukkan wajahnya, terdiam.
"Memang benar," tambah salah seorang wanita pelayan. "Gadis ini tidak pernah mengatakan kepada kami siapa dia. Atau mengapa dia ada di sini. Dia menolak mengatakannya. Kami telah mencoba selama bertahun-tahun."
Erec sangat kebingungan olehnya - tetapi itu hanya menambahkannya menjadi misteri.
"Jika aku tidak boleh mengetahui siapa kau, maka aku tidak perlu mengetahuinya," ujar Erec. "Aku menghargai sumpahmu. Tetapi hal itu tidak akan merubah kasih sayangku kepadamu. Tuan putri, siapapun engkau, jika aku mungkin memenangkan turnamen ini, maka aku akan memilihmu sebagai hadiahku. Dirimu, dari wanita manapun di seluruh kerajaan ini. Aku bertanya kepadamu lagi, apakah kau menerimanya?"
Alistair tetap menatap lantai, dan ketika Erec memandangnya, ia melihat air mata bergulir di pipinya.
Tiba-tiba, ia berbalik dan lari keluar dari ruangan itu, berlari keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Erec berdiri di sana, bersama dengan yang lainnya, tertegun dalam keheningan. Ia sangat sulit mengetahui cara untuk menafsirkan jawabannya.
"Sudah Anda lihat, Anda membuang-buang waktu Anda, dan waktu saya," ujar pemilik penginapan. "Dia berkata tidak. Jadi pergilah."
Erec mengernyit.
"Dia tidak berkata tidak," sela Brandt. "Dia tidak menjawab."
"Dia berhak atas waktu untuk berpikir," ujar Erec membela diri. "Selain itu, itu adalah hal yang butuh banyak pertimbangan. Dia tidak mengenalku juga."
Erec berdiri di sana, memperdebatkan apa yang harus dilakukan.
"Aku akan tinggal di sini malam ini," Erec akhirnya mengumumkan. "Anda harus memberi saya sebuah kamar di sini, satu lorong dengan kamarnya. Di pagi hari, sebelum turnamen dimulai, aku akan bertanya kepada dia lagi. Jika dia menerima, dan jika aku menang, dia akan menjadi pengantinku. Jika demikian, aku akan membelinya untuk membebaskan kerja paksanya denganmu, dan dia akan meninggalkan tempat ini bersamaku."
Pemilik penginapan jelas sekali tidak menginginkan Erec berada di bawah atapnya, tetapi ia tidak berani berkata apa-apa; jadi dia berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, membanting pintu di belakangnya.
"Apa kau yakin ingin tinggal di sini?" tanya Adipati. "Kembalilah ke kastil bersama dengan kami."
Erec menggelengkan kepala dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak pernah merasa seyakin ini dalam hidupku."
Thor menarik kepalanya dari udara, menyelam, memasukkan kepalanya ke dalam putaran air Laut Api. Ia menyelam semakin dalam dan mulai merasakan panas di sekelilingnya.
Di bawah permukaan, Thor membuka matanya dengan cepat – dan ia berharap ia tak pernah melakukannya. Ia menangkap sebuah pergerakan semua jenis makhluk laut yang aneh dan buruk rupa, besar dan kecil, dengan raut muka tak wajar dan tak masuk akal. Air di sekitarnya penuh dengan makhluk itu. Ia berdoa mereka tak menyerangnya sebelum ia sampai dengan aman di perahu.
Thor menyembul ke permukaan megap-megap, dan segera mencari si bocah yang tenggelam. Ia menemukannya dengan cepat: anak itu sedang timbul tenggelam, dan pada beberapa detik berikut dipastikan ia tak akan muncul ke permukaan lagi.
Thor mengulurkan tangannya, meraihnya dari belakang tulang selangka bocah itu, lalu mulai berenang bersamanya sambil menjaga kepala mereka berdua tetap berada di atas air. Thor mendengar suara menggeram dan saat ia berbalik, ia sangat terkejut melihat Krohn: pasti ia melompat ke dalam air untuk mengejarnya. Macan tutul itu berenang di sampingnya, ia mencoba mendekat ke arah Thor sambil mendengking. Thor merasa sedih telah membahayakan nyawa Krohn seperti saat ini – namun sangat sedikit yang bisa ia lakukan untuk Krohn.
Thor berusaha tak melihat ke sekelilignnya, ke arah air yang menggelegak kemerahan, ke arah makhluk-makhluk aneh yang timbul tenggelam. Seekor makhluk buruk rupa, dengan empat tangan dan dua kepala, muncul dan mendesis ke arahnya, lalu menyelam kembali ke dalam air, membuat Thor tersentak.
Thor berbalik dan melihat perahu sekitar dua puluh yar jauhnya, lalu berusaha berenang ke arahnya dengan rasa takut di dadanya. Ia gunakan satu lengan dan satu kakinya untuk menarik bocah itu. Bocah itu berontak dan berteriak, berusaha melepaskan diri darinya. Thor khawatir anak itu akan menenggelamkan mereka berdua.
“Bertahanlah!” seru Thor keras-keras, berharap si bocah akan mendengarkannya.
Untungnya, bocah itu memang mendengarnya. Thor sejenak merasa lega – sampai ia mendengar suara kecipak dan memalingkan kepalanya ke arah lain. Seekor makhluk menyembul, makhluk kecil dengan kepala kuning dan empat tentakel. Kepalanya persegi dan makhluk itu berenang ke arahnya, menggertak dan menggeram ke arahnya. Mahkluk itu tampak seperti seekor ular rattle yang hidup di laut, tapi kepalanya terlalu kotak. Thor balas menggertaknya saat binatang itu mendekat, dan ia bersiap untuk digigit olehnya – namun makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar dan meludahkan air laut ke arah Thor. Thor mengejapkan matanya, berusaha menyingkirkan air itu dari matanya.
Makhluk itu berenang mengelilingi mereka, dan Thor melipatgandakan kemampuannya untuk berenang lebih cepat, berusaha untuk menghindarinya.
Thor hampir berhasil dan ia semakin dekat dengan perahu ketika seekor makhluk lain menyembul tak jauh darinya. Makhluk itu panjang, gepeng dan berwarna jingga, dengan dua taring di mulutnya dan selusin kaki kecil. Makhluk itu punya ekor yang panjang dan memukul-mukulkannya ke segala arah. Makhluk itu tampak seperti lobster yang berdiri tegak lurus. Ia berenang di sekitar permukaan air seperti kutu dan mendesis ke arah Thor, berganti arah dan mengibaskan ekornya. Ekor binatang itu mencambuk lengan Thor dan ia menjerit kesakitan karena sengatannya.
Makhluk itu bergerak maju mundur, memukul-mukulkan ekornya terus menerus. Thor berharap ia dapat menghunus pedang dan menyerangnya – tapi hanya ada satu lengannya yang bebas dan ia membutuhkannya untuk berenang.
Krohn yang berenang di sisinya, berbalik dan menggeram ke arah makhluk itu dengan suara keras. Ia berenang tak gentar ke arah binatang buruk rupa, menakut-nakutinya hingga menghilang ke dalam air. Thor menarik nafas lega – sampai makhluk itu kembali muncul di sisinya yang lain, dan mencambuknya kembali. Krohn berputar dan mengejarnya, berusaha menangkapnya, ia berusaha menerkam binatang itu, tapi berulang kali gagal.
Читать дальше