“Saudara-saudara, aku yakin kita punya pertempuran di depan kita,” kata Reece perlahan, saat ia meraih dan menghunus pedangnya.
Thor menggapai dan meraih ketapelnya, ingin menjatuhkan musuh sebanyak mungkin sebelum musuh bisa mendekati mereka. O’Connor menghunus tombak pendeknya, sementara Elden mengacungkan lembingnya; Conval mengangkat martil, dan Convel sebuah kapak berpisau. Anak-anak lelaki lain yang datang bersama mereka dari Legiun, yang tidak dikenal Thor, menghunus pedang dan meraih perisai mereka. Thor dapat merasakan ketakutan di udara, dan ia juga merasakannya ketika pasukan berkuda semakin dekat, saat suara teriakan prajurit McCloud menggema, terdengar seperti gemuruh topan yang hendak menghantam mereka. Thor tahu mereka butuh strategi – tapi ia tidak tahu strategi apa.
Di dekat Thor, Krohn menggeram. Thor mendapat inspirasi dari keberanian Krohn: ia tak pernah mendengking atau menengok ke belakang sekali pun. Bahkan, bulu-bulu di belakangnya berdiri dan perlahan ia maju ke depan, seolah hendak melawan pasukan itu sendirian. Thor tahu bahwa Krohn adalah teman dalam pertempuran yang sejati.
“Apakah kau pikir yang lainnya akan membantu kita?” tanya O’Connor.
“Mereka akan terlambat,” jawab Elden. “Kita telah dijebak oleh Forg.”
“Tapi mengapa?” tanya Reece.
“Aku tak tahu,” jawab Thor, melangkah ke depan di atas kudanya. “tapi aku merasa ini ada hubungannya denganku. Kupikir ada yang ingin aku mati.”
Thor merasa yang lainnya berbalik dan memandang ke arahnya.
“Mengapa?” tanya Reece.
Thor mengangkat bahunya. Ia tak tahu, tapi ia punya firasat itu ada hubungannya dengan kekacauan di Istana Raja, sesuatu tentang pembunuhan Raja MacGil. Kelihatannya itu Gareth. Mungkin ia menganggap Thor sebagai ancaman untuknya.
Thor merasa tak enak karena telah membahayakan nyawa rekan-rekan setimnya, tapi tak ada sesuatu pun yang bisa dilakukannya saat itu. Semua yang bisa ia lakukan adalah mencoba memperjuangkan nyawa mereka.
Thor merasa saatnya tiba. Ia berseru dan menendang kudanya, dan melaju kencang di atasnya, di depan teman-temannya. Ia tak akan menunggu di sini untuk menemui musuhnya, bertemu dengan ajalnya. Ia akan melakukan serangan pertama, mungkin untuk mengalihkan perhatian dari rekan-rekan setimnya, dan memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri. Jika ini adalah akhir hidupnya, ia akan menjemputnya dengan keberanian, dengan kemuliaan.
Hati Thor menggigil namun ia tak ingin menampakkannya. Thor berkuda menjauhi yang lainnya, melaju ke atas bukit mendekati pasukan. Di sampingnya, Krohn berlari kencang, tak ketinggalan.
Thor mendengar teriakan di belakangnya, kawan-kawan Legiunnya berlomba mengejarnya. Mereka berjarak sekitar dua puluh yard darinya, dan mereka berkuda di belakangnya, menyerukan seruan pertempuran. Thor tetap berada di depan, dan merasa lega mendapat dukungan kawan-kawannya.
Sebelum kelompok ksatria Thor menusuk ke dalam pasukan McCloud, di depan Thor tampaklah sekitar lima puluh orang. Mereka berada ratusan yard di depannya dan mendekat dengan cepat. Thor menarik ketapelnya, meletakkan sebuah batu, membidik sasaran dan menembakkannya. Ia membidik pemimpin mereka, seorang pria besar dengan pelindung dada berwarna perak, dan bidikannya sempurna. Ia menembak pria itu di bawah kerongkongannya, di antara lempengan baju zirah, dan pria itu terjatuh dari kudanya, mendarat di tanah di depan yang lainnya.
Saat ia terjatuh, kudanya pun tersungkur bersamanya. Demikian juga lusinan kuda di belakangnya, membuat para prajurit di atasnya terlempar ke tanah dan mendarat dengan wajah menghadap ke tanah.
Sebelum mereka membalas, Thor menempatkan batu lain, menarik dan menembakkannya. Sekali lagi, bidikannya tepat dan ia mengenai pemimpin pasukan lainnya, tepat di titik wajahnya yang tak terlindung baju zirah. Ia terjatuh di sisi kudanya, menimpa beberapa prajurit lainnya, menjatuhkan mereka seperti domino.
Saat Thor melaju, sebuah lembing terlontar di atas kepalanya, sebuah tombak, martil dan kapak berpisau. Ia tahu teman-teman setimnya di Legiun mendukungnya. Bidikan mereka juga tepat dan senjata mereka berhasil menjatuhkan beberapa prajurit McCloud dengan perkiraan yang mematikan. Beberapa dari mereka terjatuh dari kuda dan menghantam prajurit lain yang terjatuh bersama mereka.
Thor sangat gembira melihat mereka berhasil mengalahkan lusinan prajurit McCloud, beberapa karena tembakan langsung. Ada juga yang terkapar akibat terjebak di antara kuda-kuda yang tersungkur. Lima puluh prajurit McCloud sekarang tersungkur di tanah, terkapar di tengah kepulan debu.
Namun pasukan McCloud ternyata sangat kuat, dan kini giliran mereka untuk membalas. Dari jarak tiga puluh yard beberapa dari pasukan McCloud melemparkan senjatanya. Sebuah martil mengarah tepat ke wajahnya, dan Thor membungkukkan tubuhnya. Martil itu mendesis di telinganya, hampir saja mengenainya. Sebuah tombak terbang ke arahnya, segera ia membungkukkan badan ke arah berlawanan. Ujungnya menggores baju zirah Thor, namun tidak mengenainya. Sebuah kapak berpisau menuju ke arahnya, dan Thor mengangkat perisai dan menghalaunya. Pisau itu menancap di perisai, dan Thor mengambil dan melemparkannya ke arah penyerangnya. Bidikan Thor tepat, kapak itu bersarang di dada pria itu, menusuk baju zirahnya. Sambil berteriak kesakitan pria itu terjatuh dari kudanya, mati.
Thor terus melaju. Ia melaju tepat ke jantung pasukan itu, menuju ke lautan prajurit, bersiap menyongsong kematiannya. Ia berteriak dan mengangkat pedangnya, menyerukan teriakan pertempuran; begitu juga teman-temannya.
Benturan keras itu mengakibatkan kemarahan. Seorang ksatria tinggi besar berkuda ke arahnya, menghunus kapak di kedua tangannya, dan melemparkannya ke arah kepala Thor. Thor menunduk, senjata itu melewati kepalanya dan membelah perut prajurit lain di belakang Thor; pria itu menjerit dan terhempas dari kudanya. Ksatria besar melemparkan kapaknya yang lain, dan kapak itu mengenai seekor kuda prajurit McCloud, yang kemudian mendengkik dan melonjak, melemparkan penunggangnya ke arah prjurit lain.
Thor terus melaju ke arah pasukan McCloud yang jumlahnya ratusan. Ia memotong jalur di tengah mereka, dan mereka mengayunkan pedang, kapak, gada ke arahnya. Ia menghalaunya dengan perisai atau menghindar, balik menusuk, membungkuk dan menghindar, sambil terus melaju. Ia terlalu cepat, terlalu lincah untuk mereka, dan mereka tidak menduganya. Jumlah mereka terlalu banyak dan manuver mereka terlalu lambat untuk menghentikan Thor.
Terdengar riuhnya dentingan logam di sekelilingnya, yang berusaha menusuknya dari segala arah. Ia menghalau semuanya dengan perisai dan pedangnya. Tapi ia tak bisa menghentikan semuanya. Sebilah pedang berhasil melukai bahunya, dan ia menjerit kesakitan bersamaan dengan darahnya yang bercucuran. Untungnya luka itu tidak parah, dan itu tidak menghentikannya untuk terus melawan.
Thor bertempur dengan kedua tangannya, dikelilingi prajurit McCloud yang siap menerkam, dan yang lainnya mulai berdatangan. Suara dentingan logam semakin keras saat pasukan McCloud berusaha menaklukkan anak-anak Legiun, pedang menghantam perisai, tombak menusuk kuda, lembing dilontarkan menuju baju zirah, semua bertempur sejauh mata memandang. Jeritan terdengar dari kedua belah pihak.
Legiun diuntungkan karena jumlah mereka sedikit dan gesit, sepuluh orang dari mereka berada di tengah-tengah pasukan yang bergerak lamban. Mereka saling menghalangi dan tak semua prajurit McCloud dapat menyerang mereka bersama-sama. Thor mendapati dirinya bertempur melawan dua atau tiga prajurit sekaligus, tapi tidak lagi. Dan rekan-rekannya di belakang melindunginya agar tak diserang dari belakang.
Seorang prajurit tahu Thor sedang lengah dan mengayunkan cambuk ke arah kepala Thor, Krohn menggeram dan menyambarnya. Ia melompat tinggi ke udara dan menerkam pergelangan tangannya. Prajurit itu terluka, darah bercucuran di mana-mana. Ia terpaksa mengubah arah cambuk tepat sebelum cambuk itu mengenai kepalaThor.
Читать дальше